Bab 22


Early Morning Blue

TEKANAN darahku terlalu rendah. Penderita hipotensi tidak bisa bangun tidur dengan tergesa-gesa. Jika langsung berdiri maka pandangan mata akan berkunang-kunang lalu bisa-bisa ambruk dan kembali tidur dalam bentuk yang lain. Sebuah konsekuensi yang mengerikan. Namun, Samson sungguh tak punya perasaan. Ia membabat kakiku tanpa ampun dengan gulungan tikar lais saat aku sedang tertidur lelap.

"Bangun!" hardiknya. "Wak Haji sudah datang, sebentar lagi azan, disiramnya kau nanti!" Dan aku terbangkit mendadak, meracau tak keruan antara tidur dan terjaga, tergagap-gagap. Kurasakan dunia berputar-putar, pandanganku gelap. Aku merangkak berlindung di balik pilar agar tak ketahuan Wak Haji yang sedang membuka jendela-jendela masjid. Sempat kulihat Lintang, Trapani, Mahar, Syahdan, dan Harun terbirit-birit menyerbu tempat wudu.

Tidur di ruang utama masjid adalah pelanggaran. Kami seharusnya tidur di belakang, di ruangan beduk dan usungan jenazah. Aku tersandar tanpa daya pada pilar yang beku, berusaha meregangregangkan mataku, jantungku terengah-engah, aku bersusah payah mengumpul-ngumpulkan nyawa.

Angin dingin menyerbu lewat jendela. Mataku terpicing mengintip keluar jendela. Sisa cahaya bulan yang telah pudar jatuh di halaman rumput, sepi dan murung. Inilah early morning blue, semacam hipokondria, perasaan malas, sakit, pesimis, dan kelabu tanpa alasan jelas yang selalu melandaku jika bangun terlalu dini. Teringat puisi A Ling untukku, aku ingin tidur lagi dan baru bangun minggu depan.

Setelah Wak Haji selesai mengumandangkan azan baru kurasakan jiwa dan ragaku bersatu. Kucai yang telah mengambil wudu dengan sengaja melewatiku, jaraknya dekat sekali, bahkan hampir melangkahiku. Ia menjentik-jentikkan air ke wajahku. Kibasan sarung panjangnya menampar mukaku.

“Pemalas!” katanya.

Malam minggu ini kami menginap di Masjid Al Hikmah karena setelah shalat subuh nanti kami punya acara seru, yaitu naik gunung!

Gunung Selumar tidak terlalu tinggi tapi puncaknya merupakan tempat tertinggi di Belitong Timur. Jika memasuki kampung kami dari arah utara maka harus melewati bahu kiri gunung ini. Dari kejauhan, gunung ini tampak seperti perahu yang terbaiik, kukuh, biru, dan samar-samar. Di sepanjang tanjakan dan turunan menyu suri bahu kiri Gunung Selumar berderet-deret rumah-rumah penduduk Selinsing dan Selumar. Mereka memagari pekarangannya dengan bambu tali2 yang ditanam rapat-rapat dan dipangkas rendahrendah. Kampung kembar ini dipisahkan oleh sebuah lembah yang digenangi air yang tenang. Danau Merantik, demikian namanya. Jika mengendarai sepeda maka stamina tubuh akan diuji oleh sebuah tanjakan pendek namun curam menjelang Desa Selinsing. Pemuda-pemuda Melayu yang berusaha membuat kekasihnya terkesan tak 'kan membiarkannya turun dari sepeda. Mereka nekat mengayuh sampai ke puncak, mengerahkan segenap tenaga, tertatihtatih sehingga sepeda tak lurus lagi jalannya. Setelah tanjakan Selinsing ini ditaklukkan maka sepeda akan menukik turun. Sang pemuda akan tersenyum puas, meminta kekasihnya memeluk pinggangnya erat-erat dan meyakinkannya bahwa ia kurang lebih tidak akan terlalu memalukan nanti kalau dijadikan suami.

Pada tukikan ini sepeda akan meluncur turun dengan deras, menikung sedikit, sebanyak dua kali, menelusuri lembah Danau Merantik, lalu disambut lagi oleh tanjakan kampung Selumar. Keka-sih mana pun akan maklum kalau diminta turun, karena tanjakan Selumar meskipun tak securam tanjakan Selinsing namun jarak tanjaknya sangat panjang. Baru seperempat saja menempuh tanjakan Selumar maka sepeda yang dituntun akan terasa berat. Pagar bambu tali yang dibentuk laksana anak-anak tangga tampak berbayang-bayang karena mata berkunang-kunang akibat kelelahan. Semakin ke puncak langkah semakin berat seperti dibebani batu. Keringat bercucuran mengalir

deras melalui celah-celah leher baju, daun telinga, dan mata, sampai membasahi celana. Tapi saat mencapai puncaknya, yaitu puncak bahu kiri Gunung Selumar, semua kelelahan itu akan terbayar. Di hadapan mata terhampar luas Belitong Timur yang indah, dibatasi pesisir pantai yang panjang membiru, dinaungi awan-awan putih yang mengapung rendah, dan barisan rapi pohon-pobon cemara angin. Dari puncak bahu ini tampak rumah-ramah penduduk teruraiurai mengikuti pola anak-anak Sungai Langkang yang berkelak-kelok seperti ular. Kelompok rumah ini tak lagi dipagari oleh bambu tali namun berselang-seling di antara padang ilalang liar tak bertuan. Semakin jauh, jalur pemukiman penduduk semakin menyebar membentuk dua arah. Pemukiman yang berbelok ke arah barat daya terlihat sayupsayup mengikuti alur jalan raya satu-satunya menuju Tanjong Pandan. Dan yang terdesak terus ke utara terputus oleh aliran sebuah sungai lebar bergelombang yang tersambung ke laut lepas–Sungai Lenggang yang melegenda. Di seberang Sungai Lenggang rumah-rumah penduduk semakin rapat mengitari pasar tua kami yang kusam. Jangan terburu-buru menuruni lembah. Berhentilah untuk beristirahat. Sandarkan tubuh berlama-lama di salah satu pokok pohon angsana tempat anak-anak tupai ekor kuning rajin bermain. Dengarkan orkestra daun-daun pohon jarum dan jeritan histeris burung-burung kecil matahari yang berebut sari bunga jambu mawar dengan kumbang hitam. Nikmati komposisi lanskap yang manis antara gunung, lembah, sungai, dan laut. Longgarkan kancing baju dan hirup sejuk angin selatan yang membawa aroma daun Anthurium andraeanum, yaitu bunga hati yang tumbuh semakin subur beranak pinak mengikuti ketinggian. Dinamakan bunga hati karena daunnya berbentuk hati.

Aku sendiri tak pasti, apakah aroma harum alami yang melapangkan dada itu berasal dari andraeanum sendiri atau dari simbiosisnya, sebangsa fungsi Clitocybe gibba yaitu jamur daun tak bertangkai yang rajin merambati akar-akar familia keladi itu. Jamur ini bersemi dalam suhu yang semakin lembab saat memasuki musim angin barat pada bulan-bulan yang berakhiran –ber. Bentuknya tegap, rendah, dan gemuk-gemuk. Kami sudah sangat sering piknik ke Gunung Selumar dan agak sedikit bosan dengan sensasinya. Biasanya kami tidak sampai ke puncak, sudah cukup puas dengan pemandangan dari 75% ketinggiannya. Lagi pula komposisi batu granit di atas lereng gunung ini membuat jalur pendakian ke puncak menjadi licin. Namun, kali ini aku amat bergairah dan bertekad untuk mendaki sampai ke puncak. Laskar Pelangi menyambut baik semangatku. Belum apa-apa mereka telah sibuk bercerita tentang pemandangan hebat yang akan kami saksikan nanti dari puncak, yaitu seluruh jembatan di kampung kami, kapal-kapal ikan, dan tongkang pasir gelas yang bersandar di dermaga.

Tapi aku tak peduli dengan semua pemandangan itu karena aku punya misi rahasia. Rahasia ini menyangkut sebuah pemandangan menakjubkan yang hanya bisa disaksikan dari puncak tertinggi Gunung Selumar. Rahasia ini juga berhubungan dengan bunga-bunga kecil nan rupawan yang hanya tumbuh di puncak tertinggi. Mereka adalah bunga liar Callistemon laevis3 atau bunga jarum merah, atau kalau beruntung, bunga kecil kuning kelopak empat semacam Diplotaxis muralis.

Aku menyebutnya bunga rumput gunung, istilahku sendiri, karena ia senang menyelinap, enam atau tujuh tangkai seperanakan, di antara rerumputan zebra liar di puncak-puncak gunung dekat la-ut. Kelopaknya selebar ibu jari, berwarna kuning redup dan tangkai yang menopangnya berwarna hijau muda dengan ukuran tak sepadan, natural, spontan, lucu, dan cantik. Daun-daunnya tak dapat dikatakan indah karena bentuk dan warnanya, bukan ukurannya, lebih seperti daun Vitex trifolia4 biasa. Namun jika kita siangi daunnya dan berhasil mengumpulkan paling tidak 15 kuntum lalu disatukan de-ngan jumlah yang lebih sedikit dari kuntum bunga jarum merah ma-ka satu kata untuk mereka: fantastik!


Bunga jarum merah berbentuk jarum yang lebat dengan ujung bulat kecil-kecil berwarna kuning. Ketika bunga jarum digabungkan dengan bunga rumput gunung tanpa diatur maka mereka seolah berebutan tampil. Ikatlah mereka dengan pita rambut berwarna biru muda dan tulislah sebuah puisi, maka Anda akan mampu mendinginkan hati wanita mana pun. Setelah tiga jam mendaki kami tiba di puncak. Lelah, haus, dan berkeringat, tapi tampak jelas rasa puas pada setiap orang, sebuah ekspresi "telah mampu menaklukkan". Aku yakin perasaan inilah yang memicu sikap obsesif setiap pendaki gunung profesional untuk menaklukkan atap-atap dunia. Kiranya daya tarik mendaki gunung berkaitan langsung dengan fitrah manusia.

Lalu dengan hiruk pikuk sahut-menyahut teman-temanku, para Laskar Pelangi, berkomentar tentang pemandangan yang terhainpar luas di bawah mereka.


"Lihatlah sekolah kita," pekik Sahara. Bangunan itu tampak menyedihkan dari jauh. Rupanya dilihat dari sudut dan jarak bagaimanapun, sekolah kami tetap seperti gudang kopra!

Lalu Kucai menunjuk sebuah bangunan,"Hai! Tengoklah! Itu masjid kita.”

Seluruh khalayak meneriakinya, tak terima.

"Itu kelenteng, bodoh!" Dan mereka pun terbelah dalam dua keloinpok debat kusir.

Sebagaimana biasa Mahar mulai berdongeng, menurutnya Gunung Selumar adalah seekor ular naga yang sedang menggulung diri dan telah tidur panjang selama berabad-abad.

"Ular ini akan bangun nanti kalau hari kiamat. Kepalanya ada di puncak gunung ini. Berarti tepat berada di bawah kaki-kaki kita sekarang! Dan ekornya melingkar di muara Sungai Lenggang," katanya absurd.

"Maka jangan terlalu ribut di sini, nanti kalian kualat," tambahnya lagi belum puas membodohi diri sendiri. Teman-temanku riuh rendah mendengar cerita itu dalam pro dan kontra. Tapi seperti biasa pula, A Kiong-lah yang selalu termakan dongeng Mahar, ia tampak serius dan percaya seratus persen. Mungkin sebagai ungkapan rasa kagum atas cerita yang sangat bermanfaat itu, dengan takzim ia memberikan bekal pisang rebusnya kepada Mahar. Sikapnya seperti seorang anggota suku primitif menyerahkan upeti kepada dukun yang telah menyembuhkannya dari penyakit kudis.

Mahar menyambar upeti itu dan secara kilat memasukkannya ke dalam sistem pencernaannya tanpa peduli bahwa dia sedang dianggap sangat berwibawa oleh A Kiong. Meledaklah tawa Laskar Pelangi melihat pemandangan itu. Namun A Kiong tetap serius, ia sama sekali tidak tertawa, baginya kejadian itu tidak lucu. Demikian pula aku. Aku juga tidak tertawa. Karena aku sedang merasa sepi di keramaian. Mataku tak lepas memandang sebuah kotak persegi empat berwarna merah nun jauh di bawah sana, atap sebuah rumah. Rumah A Ling. Aku menyingkir dari kegirangan teman-temanku, sendirian menelusuri padang ilalang rendah di puncak gunung, memetik bunga-bunga liar. Kupandangi lagi atap rumah A Ling dan segenggam bunga liar nan cantik di dalam genggaman. Untuk inikah aku mendaki gunung setinggi ini?

Panorama dari puncak ini seperti musik. Intronya adalah gumpalan awan putih yang mengapung rendah seolah aku dapat menjangkaunya. Lalu mengalir vokal dari suitan-suitan panjang burungburung prigantil yang kadang-kadang begitu dekat dan nyaring, sampai terdengar jauh samar-samar bersahut-sahutan dengan lengkingan-lengkingan kecil kawanan murai batu. Reffrain-nya adalah ribuan burung punai yang menyerbu hamparan buah bakung yang masak menghitam seperti permadani raksasa. Musik diakhiri secara fade out oleh jajaran panjang hutan bakau tangkapan hujan yang memagari anak-anak Sungai Lenggang, berkelok-kelok sampai tak tampak oleh pandangan mata, ditelan muara-muara di sepanjang Pantai Manggar sampai ke Tanjong Kelumpang.

Angin sejuk yang bertiup dari lembah menampar-nampar wajahku. Aku merasa tenang dan akan kutulis puisi demi seseorang di balik tirai keong itu. Puisi inilah misi rahasiaku.

Jauh Tinggi


A Ling, hari ini aku mendaki Gunung Selumar


Tinggi, tinggi sekali, sampai ke puncaknya


Hanya untuk melihat atap rumahmu

Hatiku damai rasanya





Загрузка...